Skip to content

Apa Hukum Bersalaman Setelah Sholat?

2 November 2011

Pada hari Minggu (23/10/11), saya sholat ashar berjamaah di musholla yang berada tidak jauh dari rumah, di gang Asbek Cilibende Bogor. Ada tiga orang yang berjamaah, satu imam (saya) dan dua makmum. Setelah selesai salam dan membaca wirid, seperti biasa, saya menyodorkan tangan untuk bersalaman (مصافحة) dengan makmum. Makmum di sebelah kiri saya, kira-kira 50 tahunan, sering mengikuti kajian di Mama Ajengan Nahrowi Tanah Baru Bogor. Makum pertama ini menerima dengan baik uluran tangan saya dan menjabat tangan saya. Lalu saya berpaling ke makmum yang berada di sebelah kanan untuk melakukan hal yang sama. Makmum ke dua ini usianya lebih muda dari makum pertama, namun jauh dia atas saya, dan aktif di pengajian Wahabi. Dengan mengacungkan telapak tangan kirinya dan sambil mengucapkan wirid dengan pelan, makmum ke dua menolak uluran jabatan tangan yang saya sodorkan.

Sepulangnya ke rumah, saya penasaran dengan apa sebenarnya yang menjadi alasan makmum ke dua, yang aktif di pengajian wahabi, menolak bersalaman setelah sholat? Lalu bagaiman pula sebenarnya hukum bersalaman setelah sholat?

Hukum Bersalaman

Bersalaman / Mushofahah merupakan salah satu sunnah Rosulullah SAW. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar nya mengutip beberapa hadits yang menujukkan keutamaan bermushofahah. Diantaranya :

1. Bermushofahah dilakukan oleh para sahabat nabi.

روينا في صحيح البخاري، عن قتادة قال‏:‏ قلتُ لأنس رضي اللّه عنه أكانتِ المصافحةُ في أصحاب النبيّ صلى اللّه عليه وسلم‏؟‏ قال‏:‏ نعم‏.‏

Artinya: “Kami telah meriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Qotadah berkata: Aku bertanya kepada Anas RA, apakah bermushofahah (bersalaman) ada dalam sahabat-sahabat Nabi SAW? Beliau menjawab: Ya (ada)”  .

2. Allah mengampuni dosa keduanya.

وروينا بالإِسناد الصحيح في سنن أبي داود، عن أنس رضي اللّه عنه قال‏:‏ قال رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيانِ فَيتَصافَحانِ إِلاَّ غُفرَ لَهُما قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا‏”

Artinya: Dan kami telah meriwayatkan dengan sanad sohih dalam sunan Abu Dawud, dari Anas R.A berkata: bersabda Rosulullah SAW: Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian bermushofahah (bersalaman), kecuali Allah mengampuni keduanya sebelum keduanya berpisah”

Dalam masalah mushofahah setelah sholat, Imam Nawawi menyatakan hal tersebut tidaklah tercela, karena hukum asal mushofahah adalah sunnat. Berikut perkataan Nawawi dalam Al-Adzkar:

واعلم أن هذه المصافحة مستحبّة عند كل لقاء، وأما ما اعتاده الناسُ من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر، فلا أصلَ له في الشرع على هذا الوجه، ولكن لا بأس به، فإن أصل المصافحة سنّة.

Artinya:

Dan ketahuilah bahwa mushofahah ini dianjurkan setiap kali bertemu. Adapun kebiasaan sebagian orang yang bermushofahah setelah sholat shubuh dan ashar, maka berdasarkan anjuran tersebut, hal tersebut tidak ada dasarnya dalam syara` . Tetapi hal itu tidak tercela, karena sesungguhnya hukum asal mushofahah adalah sunnat.

From → Agama

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: